Papyrus

 Tik, tik, tik, dentangan jam itu mengeras. Tadinya tidak terdengar sama sekali, namun ketika kesunyian bangkit dari tidurnya detik detik jarum jam pun mendendangkan nadanya dengan syahdu. Sementara aku menunggu rekan rekanku dengan menahan rasa lapar yangkian mendendangkan kegaduhan di perutku. Sebotol air pun telah ku telan, menunggu dalam kebosanan.

Sunyi, sepi, tapi samar samar kemudian ku dengar celotehan para manusia di ruang bawah, suara mesin, suara langkah langkah, tok, tok, tok, suara mesin lagi, celotehan lagi, mesin lagi, selotehan lagi, langkah lagi.

Hei, langkah siapa itu? Langkah yang diseret dengan pasti menaiki tangga, seakan menyusul kesendirianku, namun terhenti. Tidak, langkah itu tidak menuju kesini. Ku merenung. Ruangan ini penuh pengap, namun menghembuskan udara dingin ke tubuhku. Dinginnya menusuk tulang. Terlintas di pikiranku, haruskah aku ke ruang bawah sendirian? Tidak, sanggahku cepat. Aku tidak mengenal siapapun. Ku lirik jam dinding di belakangku, lebih kurang 300 detik lagi lonceng akan berbunyi, dan rekan rekanku akan menemaniku ke bawah. Iya , lebih kurang 300 detik lagi. Haruskah aku menghitungnya sendiri? Akan sangat melelahkan.

Ayolah, kapan kau akan berbunyi lonceng? Aku kelaparan.

Teng, teng, teng…

Dan, ya sekarang lonceng yang telah lama ku tunggu kehadirannya berbunyi 3 kali. Aku akan menemui rekanku dan menuju ruang bawah.

Jenjang, demi jenjang kami turuni, langkah demi langkah kami ayunkan dan ruang bawah pun mulai menampakkan wujudnya, dengan celotehan orang orang, suara mesin, teriakan dan lain lain. Aku dan rekanku menyerahkan lembaran lembaran papyrus yang kami jaga dengan baik agar tidak terlipat, koyak, dan basah itu pada tentor yang juga sedang menyusun lembaran lembaran papyrus yang lainnya.

“Makan siang ada disebelah sana”. Katanya sambil meraih lembaran lembaran itu dari tangan kami dan menunjuk kepojok kanan sana, dimana jatah makan siang kami berada. Aku ambil bagianku, dan rekanku pun mengambil bagian mereka, dengan secangkir air ditangan kiri kami dan makanan ditangan kanan, kami putuskan untuk menikmati hidangan itu di ruang atas.

Lagi aku menunggu sendirian di ruang bawah, ditemani celotehan celotehan, tawa ringan, langkah langkah kaki, suara deru mesin, rasa panas yang membuatku merasa meleleh, dan orang orang yang berlalu lalang didepanku tanpa merasa bahwa aku ada. Karena memang mereka tidak kenal aku.

Aku putuskan untuk duduk disalah satu kursi kayu panjang berwarna coklat yang didisain untuk bisa memuat 5 atau 4 orang untuk duduk, tapi kali ini aku hanya duduk sendiri.

Tapi ku tak lagi mau berdiam diri, kuraih tas yang kusandang dipunggungku, kukeluarkan benda kubus berwarna 6 macam ditiap sisinya itu yang membutuhkan waktu lama bagiku untuk mencocokkan warna ditiap sisinya. Tapi kali ini harus berhasil. Kataku meyakinkan diri sendiri.

Lama berselang, namun ku masih berkutat dengan benda kubus itu, namun tiba tiba aku dikejutkan oleh sorakan salah seorang tutor, melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa lembaran lembaran papyrus yang baru harus dibawa kelantai atas.

“Oh iya, sebentar”. Kataku, memasukkan kembali kubus itu kedalam tasku”

“Masih diruang yang sama”. Katanya sambil menyerahkan lembaran lembaran itu.

Aku langkahkan kakiku menaiki tangga yang sudah belasan kali ku naiki dan turuni.

Tok, tok, tok… bunyi langkah kakiku menemaniku menyusuri tangga itu, dan sampailah aku di ruang no 2 yang masih kosong itu. Aku duduk dikursiku. Tak lama berselang lonceng berbunyi keras satu kali. Aku bangkit dari dudukku dan segera berdiri di depan pintu besar ruangan ini, menunggu untuk untuk sekali lagi, wajah wajah baru yang akan menorehkan hikmah ilmu mereka di lembaran papyrus tadi.

Satu persatu muncul, mereka menyodorkan lembaran kecil yang sudah tak asing lagi bagiku sebagai tanda bahwa mereka telah sah untuk ikut dalam ruangan ini, dan tugasku adalam mengambil lembaran kecil berwarna biru itu dan sebagai gantinya kuserahkan satu lembaran papyrus pada masing masing mereka.

Ujian dimulai, suasana tenangpun mulai tercipta. Namun berdasarkan pengalaman selama satu bulan terakhir ini, ketenangan diruang ujian ini tidak akan bertahan lama. Kita lihat saja.

Advertisements

One thought on “Papyrus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s